Perundungan bukan lelucon dan bukan salahmu. Ada orang yang siap mendengarkan dan membantu, kapan pun kamu butuh. Langkah pertama adalah bicara.
Dua layanan resmi ini gratis dan siap membantu. Tekan tombol di bawah untuk menelepon, kamu akan diminta konfirmasi terlebih dahulu.
Layanan kesehatan jiwa dan pendampingan psikologis Kementerian Kesehatan. Cocok saat kamu merasa cemas, tertekan, atau butuh teman bicara.
Layanan pengaduan kekerasan terhadap perempuan dan anak dari Kementerian PPPA. Cocok untuk melaporkan perundungan, kekerasan, atau pelecehan.
Penyalahgunaan salah satu dan/atau kedua nomor Halo Sehati 119 dan KemenPPPA 129 — seperti panggilan iseng, laporan palsu, atau informasi yang dibuat-buat — menghambat pertolongan bagi orang yang benar-benar membutuhkan dan dapat berujung pada sanksi pidana. Hubungi hanya jika kamu atau orang lain benar-benar membutuhkan bantuan.
Dasar hukum yang dapat menjerat, antara lain:
Pasal di atas adalah contoh dan penerapannya bergantung pada penilaian aparat penegak hukum.
Memahami bentuk-bentuk bullying adalah langkah pertama untuk melawannya. Bullying bisa terjadi di sekolah, di rumah, maupun di dunia maya.
Dipukul, didorong, ditendang, dijegal, atau barang miliknya sengaja dirusak dan diambil paksa. Bentuk yang paling terlihat.
Diejek, dihina, dipanggil dengan sebutan merendahkan, atau diancam secara terus-menerus.
Sengaja dikucilkan, disebarkan gosip, dijauhi teman-teman, atau dipermalukan di depan orang banyak.
Diserang karena suku, agama, ras, gender, disabilitas, atau penampilan. Menyasar identitas seseorang.
Dilecehkan lewat pesan atau media sosial, penyebaran foto dan data pribadi tanpa izin. Bahas lengkap di bawah.
“Bullying itu cuma bercanda anak-anak. Nanti juga berhenti sendiri.”
Perundungan menimbulkan luka nyata — cedera fisik maupun trauma emosional yang bertahan lama. Ia jarang berhenti sendiri, dan harus selalu ditanggapi serius.
Perundungan online bisa terjadi 24 jam sehari dan menjangkau banyak orang dengan cepat. Berbeda dari perundungan tatap muka, ia terasa sulit dihindari — bahkan di rumah. Itulah kenapa dampaknya berat.
Mengirim pesan kasar, menyinggung, atau mengancam secara berulang kepada seseorang.
Menyebarkan data pribadi seseorang (alamat, nomor HP, foto) ke publik tanpa izin.
Membuat akun palsu atau berpura-pura menjadi orang lain untuk merusak reputasinya.
Sengaja mengeluarkan seseorang dari grup, obrolan, atau aktivitas online untuk mengisolasinya.
Sengaja memancing keributan dengan komentar provokatif dan menyakitkan agar korban terganggu.
Menyebarkan rahasia, foto sensitif, atau percakapan pribadi seseorang tanpa persetujuannya.
Jika kamu sedang mengalami cyberbullying, lakukan langkah-langkah ini sesegera mungkin.
Saksi punya kekuatan besar untuk menghentikan perundungan. Suara dan tindakanmu bisa menjadi penentu apakah situasi buruk itu berlanjut atau berhenti.
Ketika saksi turun tangan, perundungan berhenti dalam waktu sekitar 10 detik pada 57% kasus. Kehadiran teman yang tidak menyetujui perundungan adalah salah satu pencegah paling ampuh.
Diam bukan sikap netral. Ketika saksi tidak berbuat apa-apa, pelaku menangkap pesan bahwa perilakunya bisa diterima.
Kenali dan namai perilakunya sebagai perundungan. Ini langkah penting sebelum kamu bisa bertindak.
Turun tangan langsung hanya jika aman. Kalau kamu merasa terancam, panggil orang dewasa.
Kalimat tenang dan jelas seperti “Sudah, hentikan” atau “Jangan begitu” bisa memutus perundungan tanpa memicu keributan.
Setelah kejadian, temani korban. Duduk atau berjalan bersamanya, dan yakinkan bahwa ia tidak sendirian.
Beri tahu orang dewasa tepercaya — guru, konselor, atau orang tua. Ini bukan “mengadu”, ini melindungi seseorang.
Pilih pendekatan yang paling aman dan efektif untuk situasimu.
Putus perundungan tanpa konfrontasi langsung: ajukan pertanyaan acak ke pelaku atau panggil korban dengan alasan tertentu.
Kalau turun tangan langsung terasa berisiko, minta bantuan orang yang berwenang — guru, konselor, atau orang tua.
Bicara langsung ke pelaku: “Stop, itu perundungan dan tidak boleh.” Paling efektif saat ada orang lain yang mendukung.
Meski kejadian sudah berlalu, hampiri korban setelahnya. Tanyakan kabarnya dan tawarkan dukungan.
“Diam bukan solusi. Suaramu bisa menyelamatkan dirimu dan orang lain.”
Berani Bicara, Berani Melawan